Rabu, Mei 09, 2012

Khutbah



Jumaat itu, di Medan Tahrir, Yusuf Qardawi berkhutbah kepada jutaan penganut Islam dan Kristian Koptik. Dengan mesej yang sebegitu lantang, kita terus angkuh tak meneliti, apatah lagi patuh.

Bagi yang tak fasih berbahasa Arab, teks terjemahannya di sini.

Fatwa

Di mana-mana pun, pra-revolusi, kita melihat betapa kuasawan dan agamawan terpisah dari realiti hidup marhaen terbanyak. Lalu, kebijakan ekonomi dan agama yang bermunculan daripada kedua-dua cabang ini tak langsung berjejak.

Keadaan seperti itu juga terlihat di Malaysia. Beberapa hari lalu, tatkala Majlis Fatwa Kebangsaan dengan terburu-buru memfatwakan keharaman demonstrasi, ia disambut dengan sinis. Tak kurang yang menghujatnya dengan persoalan.

Kini bukan lagi zaman pembodohan dan keterbelakangan. Maaf!

Selasa, Mei 08, 2012

Waras

Teman-teman setia dan dewi terpuja,

Barangkali, saya harus mewaraskan kata.

Islami bukan lah kata dengan konotasi negatif. Ia, kalau dimengerti dengan sedemikian luhur, tentunya berbalik kepada pesan pembebasan dan pencerahan keluar dari perhambaan manusiawi, kegelapan ilmu dan aturan hidup jahili yang kacau.

Tak ada yang salah pada Islami-nya sebuah novel, drama, atau apa pun asal saja ia tak berdasar pada faham sempit yang kini tersebar luas. Ertinya yang luhur kelihatan hapus. Maka, kita disogokkan konon Islami hanya pada hubungan uda dan dara.

Mesej ini kian dilaung-laung oleh sekalian yang dengan bangga menggelar diri sebagai da'ie. Mereka mulai menulis dalam nada syahdu yang seringkali menjentik emosi. Belum lagi dikira sedemikian banyak program dengan tema cinta-kasih.

Dalam gelojak rasa itu, kita pun berleka-leka tatkala umat merintih.

Isnin, Mei 07, 2012

1515

Nyemah Mulya, demikian namanya. Watak utama novel 1515-nya Faisal Tehrani ini hampir saja menghakis kekaguman saya pada Hang Jebat dalam babad kepahlawanan Melayu.

Mulanya saya ke PBAKL '12 untuk mendapatkan Perempuan Nan Bercinta, juga daripada penulis sama yang baru diterbitkan ITBM. Tapi malang, stok novel itu kehabisan.

Lalu saya memujuk hati membeli novel lain, yang meski telah lama terbit, belum lagi saya miliki. Tapi saya tak silap. Sejarah, yang dilakar lewat novel itu begitu menggugah.

Melaka sentiasa punya pesona. Buat kesekian kalinya, saya tewas!

Imaginasi

Orang yang membaca novel adalah orang yang punya imaginasi.

Begitu kurang lebih maksudnya. Saya pun ingat-ingat lupa di mana ungkapan itu saya dengari. Tapi, kalau itu adalah sebuah kenyataan, saya mungkin manusia yang paling rugi.

Saya cuba-cuba membaca novel "Islami". Di muka depannya, blurb dengan ayat-ayat Islami sepertinya menggoda. Dan tentu saja, ia jualan genre popular yang paling laris.

Membacanya, saya jadi lelah. Betapa saya terasa tolol dihadapkan dengan masalah cinta seolah tiada hal lain yang memberati umat. Lalu, dicuplik pedoman Qur'an di sini-sana.

Imaginasi saya dibunuh. Dan dalam feel good factor itu, saya mati.

Jumaat, Mei 04, 2012

Pak Samad

Pak Samad,

Ini catatan ringkas buat bapak.

Kita tak pernah berkenalan. Yang ada, kalau pun bapak masih ingat, adalah pertemuan singkat sambil menandatangani buku bapak yang saya beli dan menghulur salam di toko buku.

Saya tak turut serta dalam demonstrasi lalu. Tak perlu saya bebelkan sebabnya. Itu nanti hanya akan jadi escapism yang takkan berakhir dan melelahkan untuk terus-terusan dibaca.

Dalam senja usia, bapak cukup menginspirasi. Malah terlihat tekal menghadapi kuasawan angkuh tatkala yang lain-lain memualkan bila merelakan diri jadi pak turut dan kaki ampu. 

Saya mula benci dengan sasterawan yang masih bersyahdu dengan puisi cinta. Mereka ini buat saya tak menyedari semangat zaman, apatah lagi merakamnya dengan pena jujur.

Muga bapak dan kita seluruhnya terus diberikan kekuatan.

Salut!


Ilmu

Ilmu seharusnya mengupayakan kita untuk membezakan hak dengan batil; budi dengan zalim; kasih dengan benci dll. Manakala ada yang hingar bila kita mula berpolitik, lalu menyindir kononnya masih mentah, itu cukup untuk menyentak kita sambil menggeleng kepala.

Sejujurnya, saya kebingungan. Bertahun berteleku di dewan kuliah dan universiti rupanya belum cukup untuk mencerahkan. Kelompok ini, dengan ilmu yang ada, semacam rasa selesa meski masih gagal merasa denyut nadi  umat dan marhaen yang terdera saban hari.

Voice of conscience, lagi lah tidak!


Redha

Redha dengan kezaliman, kalau pun tak menyokongnya, adalah sikap tercela. Konon tidak bersikap, atau neutral, juga bukan lagi sebuah pilihan. Saya gagal memahami cara fikir kalangan yang bila dihadapkan dengan foto rakyat berlumur darah diganasi polis hanya mengungkap, "padan muka!"

Paling malang, kalau ia disebut sendiri oleh kalangan yang tiap harinya diisi dengan pesan dakwah, membelek lembar mushaf, dan naskah ma'thurat. Islam, oleh mereka ini, disempitkan hanya kepada ritual. Tak ada lagi dhamir untuk menilai belas-kasih dan berhujah dengan akal jernih yang rasional.

Kini saya tahu, malah bersyukur, telah bermufaraqah sedari dulu.

Pesan

Saya masih belum mahu menulis. Beberapa momen penting dalam bulan-bulan kebelakangan, meski tak mampu dijustifikasi, sebetulnya hanya membuka ruang kepada makian dan rasa benci. Lalu, saya menegah diri daripada keterlaluan berkomentar.

Tapi, ia juga menimbulkan rasa bersalah. Melihat, dan membaca komentar teman-teman rapat yang begitu teruja menghujat kalangan tertentu tanpa pertimbangan yang berjejak kepada realiti tentunya sangat mengganggu. Dan hal itu, harus diberikan sanggahan.

Demikian pesan Qur'ani dalam ayat ke-lima surah Ibrahim.

Dan Tuhan jua lah yang lebih mengerti!

Selasa, November 01, 2011

Hiatus

Jujurnya, saya tak pernah tahu samada ruang ini, dengan segala karut yang pernah dibebelkan, dibaca atau diikuti oleh sesiapa. Kalau pun ada, ia mungkin hanya teman-teman rapat yang sudah kebuntuan idea untuk berbuat sesuatu yang jauh lebih bermanfaat.

Buat kalian yang baik budi dan sudi menemankan saya membesar menuju kematangan, ini catatan penghargaan dan terima kasih dari ruang jiwa yang paling dalam. Mungkin juga, seperti yang telah direncana, ini coretan terakhir sebelum saya berhiatus.

Kadang, ada hal yang tak dimengerti, apatah lagi dijelaskan. Dalam liku hidup yang rencam, ia seringkali tak terelakkan. Makanya, kita harus betah melengkapkan diri dengan kebijaksanaan -- berundur setapak, sebelum kembali mara mengatur langkahan.

Hal itu, persis yang sedang saya lalui kini. Sepertinya ada ketenangan yang sengaja dicipta-cipta. Juga, ada kepura-puraan yang kerap merajalela. Dan saya, dalam segala keterbatasan sebagai manusia, tak senang dengan geloranya yang melelahkan.

Insha-Allah, kita akan ketemu kembali nanti. Kalau pun tidak dalam hayat ini, pasti saja dalam hayat berikutnya. Demi waktu itu, muga kita terus dikurnia limpahan hikmah dan kekuatan. Hey, carpe diem!