Khamis, Oktober 20, 2011

Intelektual


Di nusa ini, yang diangkat hanya kebebalan. Persetankan kata nista dan kuasawan pandir yang tak punyai kejujuran. Kala kebebasan akademik dilacur, intelektual pun dibungkam. Bertabah lah Aziz Bari!

Isnin, Oktober 17, 2011

Defensif

Ruang ini telah begitu banyak merakam kebencian. Ia tak hanya terbatas kepada pemerintah sialan, politikus bobrok, dan keparat angkuh, tapi kadangkala turut menyentuh sosok hipokrit yang singgah dan bersimpang-siur dalam hidup.

Pabila sifatnya mulai berubah, daripada hanya medan bebelan dan monolog menjadi diari awam yang terbuka, sering juga saya ditegur lingkungan. Bahasanya kendur tatkala saya aktif dalam gerakan dakwah. Tapi kemudiannya, tak lagi bertapis.

Hari ini, semacam mahu kembali memutuskan ikatan daripada adab dan hemah yang masih dipaksa. Jelek benar melihat saudara seagama (atas nama agama yang mulia) menyerang agama lain atas pelbagai sebab. Defensifnya semacam menggila.

Saya mulakan dengan ungkapan yang masih terlihat waras -- hoi!

Sabtu, Oktober 15, 2011

Malam

Malam tadi, cubaan melelapkan mata cukup melelahkan. Entah mengapa, tilam yang lazimnya empuk terasa kental, langsung tak mendamaikan. Jenuh berkisar, masih serba tak kena. Makanya, dinihari itu, saya terpaksa membaca.

Dan naskah Intelektual Masyarakat Membangun-nya Prof. Syed Hussein Alatas itu saya singkap. Helaian mukanya mulai menguning, tak terimbau bila kali terakhir ia dibelek. Lalu terjojol lah bola mata manakala menekuni ciri-ciri pandir.

Sarah, atas nama pseudo-intelektual, cabaran anda itu saya sahut!

Jumaat, Oktober 14, 2011

PartirĂ²



Manakala terbuai, kata pun lalu hapus. Egoisme yang mahu dihenyak itu seakan membeku tak terungkapkan. Maka benar lah kata Andrea Bocelli; ogni giorno, una conquista; la protagonista, sarĂ  sempre lei.

Ahad, Oktober 09, 2011

Tok Alang

Tok Alang, datuk saudara yang sering berkelakar dan merendah diri tiap kali bertemu meninggal dunia kelmarin. Setelah bertahun menderita diabetes, ia diserang jangkitan paru-paru dan kegagalan fungsi organ di akhir hayatnya.

Bersama famili, sosoknya yang tenat itu sempat saya ziarahi. Betapa hiba, wajah ceria yang dilihat saban tahun itu bertarung nyawa di katil hospital. Tambah duka menyedari yang saya terkesan fragile, tak berupaya untuk membantu.

Du'a saya buat kesemua mereka yang telah pergi. Al-Fatihah!


Rabu, Oktober 05, 2011

Skeptis

Desperately Seeking Paradise-nya Zia Sardar menyihir saya. Entah mengapa, judul terbitan Granta Books ini terasa cocok, juga empati. Lakaran anekdot dan pengalaman oleh "muslim skeptis" ini juga sangat pedas mengkritik. Dan tentu saja itu menghiburkan!

Saya senang sekali menekuni jalur fikir yang sebegitu jelas. Tanpa selindung, ia menghujat kalangan holier than thou yang mekar dalam masyarakat Islam. Luahan ketidakpuasan terhadap krisis kontemporari, disulam dengan dapatan peribadi yang rencam.

Buku ini masih lagi saya belek tak lepas-lepas!

Ahad, September 18, 2011

Feminis

Maklumat lanjut boleh diakses di sini.

Isnin, September 12, 2011

11 September

11 September; khabar tragis itu diterima dalam hingar teman-teman yang cemas. Meski waktu itu seolahnya belum sahih, kami, yang ketika itu berada di Kompleks Tenis Jln. Duta sempena Sukan Sea ke-21 lekas-lekas menyebarkan beritanya.

Memang, sedekad yang lalu itu akan terus diingati. Tragedi rempuhan pesawat di Pusat Dagangan Dunia (WTC) di New York bukan lah hal remeh yang boleh dikesampingkan. Pascanya, dunia melihat betapa bobrok politisi beradu hujah.

Ia juga mengundang kecelaruan pemikiran dan persepsi umat terhadap Islam. Mereka mula hidup dalam latah dan salah faham (yang adakalanya juga disengajakan). Beberapa negara diranggah atas nama demokrasi dan pembebasan.

Hari ini, dan mungkin juga puluhan tahun mendatang, tanggal ini pasti akan terus diingati. Betapa kita harus lekas sedar, akhirnya dunia ini dan seluruh isinya memerlukan saling pemahaman dan rasa simpati. Bukan lagi tipu daya dan helah.

Ingatan buat yang terkorban, di seluruh penjuru dunia, kerananya.


Khamis, September 08, 2011

Luluh

Slowly, hundred of thousands of starving Somalis are realizing they may have trekked to Mogadishu only to die there instead.
Esei-nya Alex Perry dalam TIME terbaharu cukup mengganggu, juga meluluhkan. Krisis kemanusiaan yang berlanjut di Somalia wajar diberi perhatian. Ya, mungkin kita boleh mempersalahkan alam. Tapi manusia, dengan segala silang sengketa, perlu diberi pedoman.

Yang menggila adalah kelompok keras dengan lagak kuasawan angkuh. Ratusan ribu yang kini hanya menanti waktu-waktu akhir menghela nafas, rupanya telah dimangsakan politik yang hilang nurani. Anak kecil terus kebuluran, lalu mati, detik demi detik.

Somalia, muga nestapa ini nantinya berakhir.

Rabu, September 07, 2011

Indera

Mat Indera, yang dimunculkan kembali oleh wacana massa setelah puluhan tahun kita merdeka, buat saya benar-benar suatu rahmat. Mat Sabu, yang diserang tanpa henti harus diberi kredit selayaknya.

Membaca, juga meneliti komentar-komentar lingkungan rapat yang beremosi tak tentu hala menghentam fakta hanya memperlihatkan betapa sejarah sepertinya telah dipesongkan jauh dari landasannya.

Berhenti lah menjadi juak-juak dangkal. Fikir lah, kawan!